TIDAK ADA DOA,UCAPAN, DAN SELAMAT
"suara riuh tepuk tangan bergema di sudut ruangan
sunyum merekahmu tak pernah lepas
sembari mereka melafalkan doa juga untaian kata dan kalimat
aku hanya bisa menulikan indra pendengaran.
jika di hari ini kamu banjir akan selamat dan doa,
entah mengapa hati ini tetap diam di tempat bahkan memilih untuk tidur.
Dan mungkin entah hati yang telah beku atau rasa yang semakin biasa saja.
memberi selamat pun enggan tak tersentuh sedikitpun.
ingat tuan, ini yang kau tanam dalam sanubari anakmu.
itu juga yang harus kau nikmati di hari tua mu."
tahun ini terasa hambar,hampa, dan tak berarti.
jika di satu sisi lain kebanyakan orang tua dan anak ingin merayakan hari spesial itu bersama dan menghabiskan waktu itu adalah hal yang paling di inginkan, kali ini itu hanyalah menjadi sepenggal cerita indah namun hanya bisa di ingat dan tidak lagi dinikmati.
salah jika kalian sempat berfikir bahwa aku tidak lagi ingin cerita itu ada dan
munafik jika aku berkata semua akan baik baik saja.
tidak ada yang perlu di salahkan tuan,
tidak ada yang perlu menyesali tuan,
tidak ada yang benar juga dalam kisah ini.
jika bisa jujur, di hari spesialmu ingin rasanya berdoa di sepertiga malam
untain bait bait puisi berjejeran di atas kertas putih
memeluk raga seerat mungkin seperti tak ingin lagi di lepas
tak perlu ucapan, tak perlu selamat hanya perlu doa dan juga harapan agar apapun itu semoga yang terbaik
namun resah dan rindu yang menyiksa menghujam sampai di relung hati.
walau pada dasarnya yang dilakukan hanyalah merindu kenangan namun yang tersisa hanyalah lara.
aku,kamu,dan kita pun sama-sama tau bahwa kita tak lagi sedekat dulu,
bahwa kita tak lagi saling perhatian dan mulai terbiasa hidup dengan tugas dan melupakan kewajiban masing masing.
Dan mungkin hanya ini yang bisa kuberi
karena kita samasama tahu bahwa rasa kecewa telah menguasai.
-putrimu.



Komentar
Posting Komentar