Rasa yang pilu di titik penantian
semua harapan
semua perjuangan
semua mimpi
berkumpul menjadi satu doa
yang hancur lebur menjadi debu
lalu, di terbangkan angin melalang buana
wahai semua perjuangan yang sia-sia
semua haraoan yang semu
semua janji yang di ingkar
musnah dan lenyaplah kalian samua!"
suara gaduh,
simpang siur perdebatan dan terdengar lantang oceh para manusia yang sudah tak pakai logika,
juga sumpah serapah yang bertebaran seolah itu kalimat yang lumrah.
kau anggap apa dia yang diciptakan dari tulang rusuk mu yang bengkok itu?
pemuas nafsu juga peredam emosi yang ambigu?
ataukah pemeluk lara yang anomali?
komitmen yang di bangun dengan rasa yang membara juga menggebu di awal kisah seakan runtuh tak berdaya.
janji-janji suci yang di lontarkan di depan tuhan juga wali seakan berkelana tak pasti.
bahkan terlalu naif menjelaskan arti dari suatu rasa
atau mungkin terlalu sulit mengartikan janji suci.
tuan,
bila kamu tak mampu memahami dan menafkahi suatu tanggung jawab,
lebih baik lepaskan. jangan membuatnya memikul beban tanggung jawab sendiri.
ma,
biar ku basuh resahmu
biar ku peluk sanubarimu
pundak ku masih mampu memikul bebanmu
telingaku rentang akan keluh kesah di ujung sudut malam
tak usah berkecil hati
bait-bait doa dan tangan terbentang di saat sepertiga malam masih
terlalu kuat untuk mengguncang tanah yang dipijaki
namun, seolah hatimu masih mempunyai tempat seluas samudra untu menerima
perlakuan dan juga janji manis yang semu
[22.21]



Komentar
Posting Komentar