senja atau hujan?
assalamualaikum warrahmatulllahi wabarakatuh
pada pagi hari di gelap gulita,
menyilang kaki menatap langit,
dingin dan kesunyiaan menyapa,
kulihat disana bulan hanya sendirian
tidak ada yang menemani
tapi, ia masi bersinar menerangi bumi
sinar surya mulai keluar dari ujung permukaan
terlihat ia malu-malu keluar dari perut bumi
kupikir semua itu berpasangan
tapi, nyatanya tidak
mereka di takdirkan berpasangan tapi tidak untuk menyatu
seperti, malam berpasangan dengan siang
tapi saat mereka menyatu
warna jingga menghiasi langit petang itu
membuat hampir semua manusia berdecak kagum
tapi, tanpa mereka sadari itu hanya sesaat dan
membuat siang dan malam berpisah.
terkadang, orang berfikir cinta itu harus dimiliki.
dulu, saya pernah memakai prinsip
aku tidak ingin mencintainya, jika pada akhirnya aku yang harus terluka.
aku tidak ingin mencintainya, jika pada akhirnya aku tidak bersamanya.
meski terkadang, orang bilang cinta yang tulus tak perlu balasan. rasanya semua itu hanya kebohongan.
siapapun, pasti ingin cintanya terbalaskan. meski hanya mendapat pengakuan, tanpa harus di genggam.
tapi seiring berjalannya waktu, lelaki berkumis tipis, kemana perginya tatapan lembut dan hangat di mata segelap malam itu ketika menatap mata manik mata yang tajam dan redup? ini seakan mengajarkan semua itu butuh proses. semua yang terjadi tidak mungkin terjadi secara instan dan sesuka hati.
aneh memang, rasanya dia terlalu gampang masuk dalam kehidupan saya. dengan gampangnya memutar balikan kehidupan. mungkin, terlihat egois, karena dia berbeda, ia mempunyai cara tersendiri untuk mencinta, punya cara tersendiri untuk menjaga, punya cara sendiri untuk punya rasa. yang kamu tahu kamu hanya ingin membuat saya tertawa lepas dan tersenyum. kamu tidak ingin membuat hujan di pipi ini, walau pun itu air mata kebahagiaan. menurutmu, tidak ada yang namanya bahagia mengeluarkan tangis, semua bahagia adalah menampilkan setarik senyum
pada tuan yang kusebut sebagai prajurit, jika begini saya merasa anda adalah arah tujuan yang sangat saya impikan, layaknya matahari terbenam, walau hanya sementara berhasil membuat manusia berdecak kagum walau tau semua yang indah itu hanya sementara namun akan kembali lagi.
atau mungkin saya merasa kamu layaknya hujan yang iklas turun pada malam hari membasahi jalanan dan hamparan kota walau semesta tak pernah menjanjikan pelangi akan datang. yah, dan kamu seperti hujan. kamu masih mau kembali walau tahu bagaimana rasanya jatuhberkali- kali dan kamu menganggap aku sebagai imajinasi namu cinta hanya ilusi dan fatamorgana meyayat hati. sadarlah wahai akal!
walau kadang, senja mengajarkan saya bahwa tak semua yang indah berakhir bahagia,
seperti senja, warna jingga yang berarti siang akan berganti malam,
mereka tampak menyatu, tetapi untuk berpisah.
lantas, untuk apa bertemu?
untuk membuat yang lain bisa menikmati keindahan itu, walau mereka yang jadi korban. itu yang disebut iklas.
- Tuan putri
gorontalo, jum'at 20 juli 2018
16: 31
pada pagi hari di gelap gulita,
menyilang kaki menatap langit,
dingin dan kesunyiaan menyapa,
kulihat disana bulan hanya sendirian
tidak ada yang menemani
tapi, ia masi bersinar menerangi bumi
sinar surya mulai keluar dari ujung permukaan
terlihat ia malu-malu keluar dari perut bumi
kupikir semua itu berpasangan
tapi, nyatanya tidak
mereka di takdirkan berpasangan tapi tidak untuk menyatu
seperti, malam berpasangan dengan siang
tapi saat mereka menyatu
warna jingga menghiasi langit petang itu
membuat hampir semua manusia berdecak kagum
tapi, tanpa mereka sadari itu hanya sesaat dan
membuat siang dan malam berpisah.
terkadang, orang berfikir cinta itu harus dimiliki.
dulu, saya pernah memakai prinsip
aku tidak ingin mencintainya, jika pada akhirnya aku yang harus terluka.
aku tidak ingin mencintainya, jika pada akhirnya aku tidak bersamanya.
meski terkadang, orang bilang cinta yang tulus tak perlu balasan. rasanya semua itu hanya kebohongan.
siapapun, pasti ingin cintanya terbalaskan. meski hanya mendapat pengakuan, tanpa harus di genggam.
tapi seiring berjalannya waktu, lelaki berkumis tipis, kemana perginya tatapan lembut dan hangat di mata segelap malam itu ketika menatap mata manik mata yang tajam dan redup? ini seakan mengajarkan semua itu butuh proses. semua yang terjadi tidak mungkin terjadi secara instan dan sesuka hati.
aneh memang, rasanya dia terlalu gampang masuk dalam kehidupan saya. dengan gampangnya memutar balikan kehidupan. mungkin, terlihat egois, karena dia berbeda, ia mempunyai cara tersendiri untuk mencinta, punya cara tersendiri untuk menjaga, punya cara sendiri untuk punya rasa. yang kamu tahu kamu hanya ingin membuat saya tertawa lepas dan tersenyum. kamu tidak ingin membuat hujan di pipi ini, walau pun itu air mata kebahagiaan. menurutmu, tidak ada yang namanya bahagia mengeluarkan tangis, semua bahagia adalah menampilkan setarik senyum
pada tuan yang kusebut sebagai prajurit, jika begini saya merasa anda adalah arah tujuan yang sangat saya impikan, layaknya matahari terbenam, walau hanya sementara berhasil membuat manusia berdecak kagum walau tau semua yang indah itu hanya sementara namun akan kembali lagi.
atau mungkin saya merasa kamu layaknya hujan yang iklas turun pada malam hari membasahi jalanan dan hamparan kota walau semesta tak pernah menjanjikan pelangi akan datang. yah, dan kamu seperti hujan. kamu masih mau kembali walau tahu bagaimana rasanya jatuhberkali- kali dan kamu menganggap aku sebagai imajinasi namu cinta hanya ilusi dan fatamorgana meyayat hati. sadarlah wahai akal!
walau kadang, senja mengajarkan saya bahwa tak semua yang indah berakhir bahagia,
seperti senja, warna jingga yang berarti siang akan berganti malam,
mereka tampak menyatu, tetapi untuk berpisah.
lantas, untuk apa bertemu?
untuk membuat yang lain bisa menikmati keindahan itu, walau mereka yang jadi korban. itu yang disebut iklas.
- Tuan putri
gorontalo, jum'at 20 juli 2018
16: 31




Komentar
Posting Komentar