Pada garis waktu

 pada garis waktu..
terkadang rindu pada masa di mana semua terasa sederhana. masa dimana hujan deras di pipi itu terjadi hanya karena saat terjatuh dan membuat luka di kaki dan lutut, bukan karena sakit akan pengharapan yang semu dan rasa yang ambigu.
dulu,
semua anak seumuran ku terlalu cerdas. dimana barang bekas bisa menjadi barang berharga, dimana ban bekas dan juga lari bisa membuat gelak tawa yang renyah walau pun terik matahari menghunjam kulit. bukan gadget yang merusak dan membuat candu anak anak menjadi generasi merunduk
dulu,
ketika langit biru cerah berubah menjadi langit jingga atau merah fana itu tandanya waktu pulang rumah.
ketika waktu petang dan belum juga sampai rumah, wanita paruh baya yang masi awet muda tapi keriput tua itu akan ada di ambang pintu rumah sambil memegang rotan juga raut muka khawatir menyambut.
dulu,
hal mistis selalu terjadi ketika sudah malam tiba. ketika malam seingatku tidur di sofa ruang tamu, tapi ketika bangun pagi sudah terasa di atas tempat tidur. kupikir, rumahku ada hantu, ternyata sosok lelaki kuat dan tegap itu selalu memeluk tubuh ini ke kasur tanpa merasa lelah atau pun mengeluh.
kini,
aku tumbuh menjadi gadis besar yang hanya bisa mengingat perjuangan lelaki yang nyatanya terlalu fatamorgana sedangkan lupa akan perjuangan ibu dan ayah yang nyata di depan mata.
maafkan putrimu.

-Mayanggani, Gorontalo.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer